XPdKyZ3Dx8AsjrBpycdAEdBz2M6yyUpdeYe1l6qN
Bookmark

Nemesis Assai: Ketika AI Anak Bangsa Berani Membongkar Anggaran Pemerintah yang Janggal

 

Pernah nggak sih kamu penasaran, ke mana sebenarnya uang pajak yang kita bayar setiap tahun itu mengalir? Pertanyaan yang dulu susah dijawab tanpa akses khusus, kini bisa mulai terjawab berkat sebuah inovasi berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Nemesis Assai yang belakangan ini viral di media sosial Indonesia.

Bukan dibuat oleh lembaga resmi pemerintah, bukan juga produk perusahaan teknologi besar. Nemesis Assai lahir dari tangan seorang AI engineer, dosen, dan konten kreator bernama Abil Sudarman dengan nama lengkap Abigail Aryaputra, bersama timnya di Assai.id. Dan hasilnya? Bikin publik melongo.

Apa Itu Nemesis Assai?

Nemesis Assai adalah sebuah dashboard early warning system berbasis kecerdasan buatan yang dirancang khusus untuk memantau dan mendeteksi anomali dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah di seluruh Indonesia mulai dari kementerian, lembaga negara, pemerintah provinsi, hingga pemerintah kota dan kabupaten.

Sederhana tapi powerful. Alih-alih menunggu hasil audit BPK yang butuh waktu bertahun-tahun, Nemesis Assai bekerja secara otomatis dan real-time, memetakan jutaan data pengadaan ke dalam sinyal yang bisa langsung dibaca publik. Yang paling menarik ini bukan produk komersial. Seluruh metodologinya bersifat open source dan semua temuannya dipublikasikan secara terbuka untuk kepentingan masyarakat.

Dari Mana Data Nemesis Assai Berasal?

Sumber datanya bukan sembarangan, Nemesis Assai mengambil langsung dari SiRUP (Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan), platform resmi milik LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah). Ini adalah data publik yang memang diamanatkan oleh pemerintah untuk bisa diakses masyarakat, berisi rencana pengadaan nasional yang mencakup sekitar 3 juta baris paket pengadaan per tahun.

Kolom data utama yang digunakan meliputi:

  • Nama paket pengadaan
  • Pagu (nilai anggaran)
  • Metode pengadaan
  • Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah (K/L/PD)
  • Jenis belanja
  • Lokasi
  • Tahun anggaran

Data sebesar ini jelas tidak mungkin diaudit secara manual oleh tim manusia. Di sinilah peran AI menjadi krusial dan tak tergantikan.

Bagaimana Cara Kerja AI Nemesis Assai?

Proses yang dijalankan Nemesis Assai terbagi dalam lima tahapan utama:

1. Tarik Data Publik Sistem mengambil data SiRUP secara otomatis melalui endpoint publik LKPP, lalu menyimpannya ke dalam database lokal (SQLite).

2. Pembersihan dan Persiapan Data Data mentah dibersihkan teks paket dinormalisasi, duplikasi dihapus, dan konteks kementerian atau lembaga disiapkan agar bisa dibaca AI dengan akurat.

3. Analisis oleh Large Language Model (LLM) Ini inti dari segalanya. Model bahasa besar seperti GPT membaca setiap judul paket pengadaan beserta konteksnya, lalu menilai: apakah nilai anggaran itu masuk akal dibanding deskripsi pekerjaan yang diajukan?

4. Penghitungan Label Risiko Setiap paket diberi label berdasarkan tingkat kewajarannya: "Medium", "High", atau "Absurd". Label ini kemudian dijumlahkan per provinsi, kota, maupun kementerian untuk menghasilkan gambaran keseluruhan.

5. Verifikasi oleh Auditor Manusia Tidak semua yang dilabeli AI langsung dianggap bermasalah. Setiap temuan yang diprioritaskan tetap melalui proses verifikasi manusia untuk memastikan konteks dan validitas data sebelum dipublikasikan.

Hasilnya ditampilkan dalam bentuk dashboard interaktif yang bisa diakses publik, pilih kementerian, provinsi, atau daerah yang ingin diperiksa, dan sistem langsung menampilkan ringkasan anggaran beserta label risikonya.

Temuan yang Bikin Publik Syok

Sejak diluncurkan pada April 2026, Nemesis Assai langsung mengungkap sejumlah paket pengadaan yang membuat alis publik terangkat. Beberapa di antaranya:

  • Range Rover senilai Rp 8,5 miliar untuk pemerintah provinsi
  • Meja biliar Rp 400 juta di lingkungan instansi pemerintah
  • Akuarium Rp 100 juta beserta biaya pemeliharaannya sebesar Rp 153 juta di area kerja pimpinan kementerian
  • Sewa tanaman hias dan taman indoor senilai Rp 1,17 miliar di rumah dinas pimpinan, termasuk lantai 7 gedung kementerian
  • Anggaran studio video dan film Rp 12,8 miliar di Sekretariat DPRD Kabupaten Morowali
  • Pemeliharaan villa milik Pemprov DKI Jakarta yang nilainya dinilai tidak proporsional

Temuan-temuan ini langsung viral dan memantik diskusi panas di berbagai platform media sosial. Nama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sempat muncul sebagai salah satu yang paling banyak mendapat label risiko tinggi dari sistem ini.

Siapa Abil Sudarman, Sosok di Balik Nemesis Assai?

Abil Sudarman bukan politisi, bukan pegawai KPK, dan bukan aktivis. Ia adalah seorang AI engineer sekaligus pendiri ASSAI (Abil Sudarman School of Artificial Intelligence) sebuah institusi pendidikan AI berbahasa Indonesia yang bertujuan menutup kesenjangan antara inovasi global dan talenta lokal.

Sebelum Nemesis Assai viral, Abil sudah dikenal aktif mengkritisi kejanggalan di sektor publik melalui analisis data terbuka, termasuk pernah menyoroti dugaan pelanggaran UU Perlindungan Data Pribadi di proses rekrutmen Komdigi pada Januari 2026.

Motivasi di balik proyek ini pun jelas: menerapkan audit AI pada skala yang tidak mungkin ditandingi tim manusia, dan membuat uang publik benar-benar bisa ditelusuri demi kepentingan rakyat banyak, bukan kepentingan segelintir pihak.

Dampak dan Potensi Nemesis Assai

Kehadiran Nemesis Assai membawa angin segar bagi ekosistem pengawasan publik di Indonesia, setidaknya dari tiga sisi:

Transparansi yang Diperluas Sebelumnya, data pengadaan pemerintah hanya bisa diakses secara teknis oleh mereka yang tahu cara mengolah data besar. Kini, siapapun bisa langsung masuk ke dashboard dan melihat sendiri ke mana anggaran daerahnya mengalir.

Efek Jera Bagi Perencana Anggaran Dengan tahu bahwa setiap paket pengadaan bisa dipindai AI dan dipublikasikan, diharapkan para perencana anggaran lebih berhati-hati dan bertanggung jawab dalam menyusun rencana belanja negara.

Alat Bantu bagi Auditor dan Jurnalis Nemesis Assai bukan pengganti KPK atau BPK, ia adalah alat deteksi dini yang bisa membantu auditor, jurnalis investigatif, dan akademisi untuk lebih cepat mengidentifikasi area yang perlu diperiksa lebih dalam.

Abil sendiri menyatakan bahwa akses dan kunci sistem ini sudah diserahkan kepada para peneliti universitas dan peneliti AI di Indonesia, agar perjuangan mendorong transparansi anggaran bisa terus berlanjut melampaui satu individu.

Batasan yang Perlu Dipahami

Penting untuk digarisbawahi: Nemesis Assai bukan vonis hukum. Label "Absurd" dari sistem ini tidak otomatis berarti suatu pengadaan adalah korupsi atau pelanggaran hukum. Data SiRUP sendiri kerap tidak lengkap ada pagu yang kosong, kategori yang salah input, atau konteks yang tidak tergambar dari judul paket saja.

Itulah mengapa setiap temuan selalu disertai disclaimer dan harus tetap diverifikasi secara kontekstual sebelum dijadikan dasar penilaian akhir. Nemesis Assai adalah sinyal, bukan kesimpulan.

AI Sebagai Penjaga Uang Rakyat

Di tengah keterbatasan kapasitas pengawasan manusia dalam menghadapi jutaan baris data pengadaan, Nemesis Assai membuktikan bahwa teknologi AI bisa hadir sebagai mitra pengawasan publik yang efektif. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk memberi peringatan dini dan yang lebih penting, untuk membuat rakyat Indonesia punya akses yang lebih setara terhadap informasi bagaimana uang mereka dibelanjakan.

Inovasi seperti ini adalah bukti nyata bahwa anak bangsa tidak hanya mampu menggunakan AI, tapi juga memanfaatkannya untuk hal yang jauh lebih besar dari sekadar bisnis: menjaga integritas uang publik.

Ingin melihat langsung bagaimana anggaran di daerahmu dipetakan? Kunjungi assai.id/nemesis dan mulai telusuri sendiri.

Posting Komentar

Posting Komentar