Dunia Bergerak, Siapa yang Tertinggal?
Bayangkan sebuah kereta cepat yang melaju tanpa berhenti. Di dalamnya duduk orang-orang yang paham cara menaikinya, membeli tiket digitalnya, dan memanfaatkan setiap fasilitasnya. Di luar, ada sekelompok orang yang hanya bisa menatap dari pinggir rel, bukan karena tidak ingin naik, tapi karena mereka tidak tahu caranya.
Itulah gambaran nyata gaptek di era AI saat ini.
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bukan lagi teknologi masa depan. Ia sudah hadir di genggaman tangan kita, dalam percakapan sehari-hari, dalam proses rekrutmen kerja, bahkan dalam cara pemerintah melayani warganya. Di tengah akselerasi ini, muncul pertanyaan besar yang tidak bisa diabaikan: Apakah mereka yang gaptek teknologi hanya akan menjadi alat, digerakkan oleh sistem yang tidak mereka pahami, tanpa kendali atas nasib mereka sendiri?
Apa Itu "Gaptek" dan Mengapa Ini Bukan Sekadar Istilah Gaul?
Kata gaptek kependekan dari gagap teknologi, sudah lama akrab di telinga masyarakat Indonesia. Sejak tahun 1990-an, istilah ini dipakai untuk menyebut orang yang tidak terbiasa menggunakan perangkat digital, aplikasi, atau teknologi terbaru.
Namun di era AI, "gaptek" bukan lagi sekadar candaan ringan. Ini adalah kondisi yang berdampak serius.
Menurut penelitian Universitas Indonesia (UI, 2021), sekitar 30% masyarakat Indonesia masih mengalami kesenjangan digital, terutama di wilayah pedesaan yang aksesnya terbatas. Sementara itu, studi dari Universitas Gadjah Mada (UGM, 2022) menunjukkan bahwa keterampilan digital mampu meningkatkan peluang kerja hingga 40%.
Dengan kata lain, mereka yang tidak melek teknologi bukan hanya "kurang update", mereka sedang kehilangan peluang yang semakin hari semakin besar.
Dampak Nyata Gaptek di Era Kecerdasan Buatan
1. Tersingkir dari Dunia Kerja
Ini adalah ancaman paling konkret. Dunia kerja Indonesia kini sedang bergeser dengan cepat. AI mampu melakukan berbagai tugas administratif, analisis data, dan proses rutin dengan lebih cepat dan akurat. Banyak jenis pekerjaan tradisional mengalami pergeseran peran atau bahkan terancam hilang.
Industri manufaktur, perbankan, ritel, hingga layanan publik semuanya sudah mulai mengotomasi pekerjaan-pekerjaan yang dulu dikerjakan manusia. Mereka yang tidak cakap teknologi akan tertinggal dalam performa kerja, sulit mengikuti pelatihan online, bahkan terancam tersingkir dari persaingan karier.
Laporan World Economic Forum (WEF) menyebut AI dan otomasi diprediksi akan menggantikan sekitar 85 juta pekerjaan secara global, sebuah angka yang tidak bisa disepelekan.
2. Tidak Punya Kendali atas Keputusan yang Menyentuh Hidupnya
Inilah yang paling berbahaya dan paling jarang dibahas.
Di era AI, semakin banyak keputusan yang dibuat oleh algoritma, siapa yang layak mendapat pinjaman bank, siapa yang lolos seleksi kerja, siapa yang mendapat rekomendasi beasiswa. Mereka yang tidak melek teknologi tidak hanya tidak bisa memanfaatkan sistem ini, mereka juga tidak bisa mempertanyakannya, memahaminya, atau melawannya ketika sistem tersebut salah.
Inilah definisi sesungguhnya dari "menjadi alat", ketika seseorang digerakkan oleh keputusan yang ia tidak pahami, tidak bisa pengaruhi, dan tidak bisa lawan.
3. Rentan Menjadi Korban Bukan Penerima Manfaat
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah memperingatkan meningkatnya penipuan berbasis AI di Indonesia: deepfake, voice cloning, hingga manipulasi informasi yang semakin canggih. Siapa yang paling rentan? Tentu saja mereka yang paling tidak paham cara kerja teknologi ini.
Kesenjangan literasi digital tidak hanya membuat seseorang kehilangan peluang, ia juga membuat seseorang menjadi target yang lebih mudah.
4. Terkucil Secara Sosial dan Layanan Publik
Gaptek berdampak melampaui dunia kerja. Pemerintah Indonesia kini mendorong digitalisasi layanan publik melalui GovTech INA Digital. Artinya, semakin banyak layanan dari administrasi kependudukan hingga bantuan sosial yang mensyaratkan kemampuan digital dasar. Mereka yang tidak memiliki kemampuan ini akan semakin sulit mengakses apa yang seharusnya menjadi hak mereka.
Apakah Ini Takdir? Atau Ada Jalan Keluar?
Penting untuk tidak melihat situasi ini sebagai takdir yang tidak bisa diubah. Gaptek bukan kondisi permanen, ia adalah kondisi yang bisa diatasi, asalkan ada kemauan dan akses yang tepat.
Gaptek Bukan Soal Usia atau Kecerdasan
Salah satu mitos terbesar adalah bahwa gaptek hanya terjadi pada orang tua atau mereka yang "kurang pintar." Kenyataannya, banyak anak muda yang tergolong gaptek karena tidak pernah terpapar dengan cara yang relevan dan bermakna.
Akar masalah sebenarnya adalah tidak meratanya penyebaran akses dan konteks. Masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota, yang tidak punya akses internet stabil, atau yang tidak pernah melihat manfaat langsung teknologi bagi kehidupan mereka, wajar jika mereka tidak termotivasi untuk belajar.
Yang Paling Berbahaya Bukan yang Gaptek Total
Ada ironi menarik yang sering terlewat, kelompok paling rentan bukan yang sama sekali tidak paham teknologi, melainkan yang setengah-setengah pahamnya. Mereka yang merasa sudah cukup tahu tapi tidak terus memperbarui diri, inilah zona bahaya sesungguhnya. Rasa nyaman dengan pengetahuan lama bisa menjadi perangkap yang lebih mematikan dari ketidaktahuan total.
AI Justru Menurunkan Barrier Masuk
Paradoksnya, AI yang tampak menakutkan itu sebenarnya sedang mempermurah biaya untuk melek teknologi. Seseorang tidak perlu bisa coding untuk memanfaatkan AI. Yang dibutuhkan adalah kemampuan bertanya dengan baik, berpikir kritis tentang apa yang ingin dicapai, dan kemauan untuk terus belajar.
ChatGPT, Claude, Gemini, semua bisa diakses dengan bahasa Indonesia, tanpa perlu latar belakang teknis. Ini adalah peluang yang belum pernah ada sebelumnya.
Siapa yang Bertanggung Jawab?
Mengatasi kesenjangan digital bukan hanya tugas individu. Ini adalah tanggung jawab kolektif yang melibatkan:
Pemerintah: Infrastruktur internet harus merata sampai ke pelosok. Program seperti Gerakan Nasional Literasi Digital harus diperkuat dan diperluas, tidak hanya di perkotaan.
Institusi Pendidikan: Kurikulum harus diperbarui agar relevan dengan kebutuhan era AI. Kemampuan analisis data, berpikir komputasional, dan literasi AI harus masuk ke semua jenjang, bukan hanya jurusan teknik.
Perusahaan dan Industri: Investasi dalam pelatihan ulang (reskilling) dan peningkatan keterampilan (upskilling) karyawan bukan lagi pilihan, ini adalah keharusan strategis.
Komunitas: Mereka yang sudah lebih melek teknologi punya tanggung jawab moral untuk membantu orang-orang di sekitarnya. Mentoring berbasis komunitas adalah salah satu cara paling efektif dan berkelanjutan.
Kontrol Ada di Tangan Siapa?
Kembali ke pertanyaan awal apakah mereka yang gaptek hanya akan jadi alat tanpa kontrol?
Jawaban jujurnya ya, jika mereka tidak bergerak.
Era AI bukan era yang menghukum ketidaktahuan secara permanen, tapi ia bergerak sangat cepat, dan jarak antara yang melek dan yang tidak semakin melebar setiap harinya. Mereka yang tidak mengambil langkah pertama hari ini akan menemukan bahwa langkah pertama itu semakin berat besok.
Tapi ini bukan alasan untuk putus asa. Ini adalah panggilan untuk bertindak, bagi individu, institusi, dan masyarakat secara keseluruhan.
Di era AI, kontrol bukan hanya soal siapa yang bisa coding atau siapa yang paling canggih pakai teknologinya. Kontrol ada pada mereka yang paham apa yang sedang terjadi, bisa mempertanyakan keputusan yang dibuat algoritma, dan mampu memilih bukan hanya mengikuti.
Referensi
- Penelitian Universitas Indonesia tentang Kesenjangan Digital, 2021
- Studi Universitas Gadjah Mada tentang Keterampilan Digital dan Peluang Kerja, 2022
- World Economic Forum — The Future of Jobs Report
- McKinsey Global Institute — Workforce Transitions in a Time of Automation
- OJK — Peringatan Penipuan Berbasis AI, 2025
- Senusa.co.id — Dunia Kerja Indonesia 2025: Bagaimana AI dan Otomasi Mengubah Industri
- CSIRT UNAIR — AI dan Masa Depan Pekerjaan: Revolusi atau Ancaman?

Posting Komentar