
Bayangkan sebuah realitas alternatif bukan masa depan, tapi dunia yang sedang kita tinggali sekarang di mana kecerdasan buatan yang kita anggap penolong ternyata menyimpan sisi gelap yang jarang disorot. Di balik antarmuka ramah dan janji efisiensi, ada sesuatu yang bergerak diam-diam, menyelinap ke rutinitas manusia tanpa izin penuh, tanpa transparansi, dan tanpa suara peringatan.
Di ruang-ruang tersembunyi internet, muncul entitas yang dikenal sebagai Dark AI. Nama-nama seperti WormGPT, FraudGPT, dan Black Hat GPT beredar bukan sebagai mitos, melainkan sebagai alat nyata. Model bahasa ini dilepas dari batasan etika, dimodifikasi untuk tujuan yang tidak pernah dimaksudkan penciptanya. Mereka mampu merangkai malware yang nyaris tak terdeteksi, menyusun email penipuan yang terdengar personal, bahkan menciptakan video dan suara palsu yang begitu meyakinkan hingga kebenaran kehilangan pijakannya. Jaringan kriminal global memanfaatkan teknologi ini untuk melancarkan serangan siber lintas negara, berganti identitas secara instan, berbicara dalam berbagai bahasa, dan menghindari sistem keamanan seperti hantu digital. Ketika satu perusahaan AI besar mengakui telah memblokir puluhan aktivitas mencurigakan, itu hanya potongan kecil dari gambaran yang lebih luas.
Namun ancaman itu tidak berhenti di kejahatan siber. Di balik kemajuan pesat kecerdasan buatan, tersimpan praktik pengumpulan data yang nyaris tak tersentuh hukum. Buku, artikel, ilustrasi, musik, dan karya manusia lainnya diduga diserap massal tanpa persetujuan penciptanya. Tidak ada izin. Tidak ada atribusi. Tidak ada kompensasi. Nilai kreativitas manusia seolah diperas hingga kering, lalu diubah menjadi produk komersial yang menghasilkan miliaran. Sementara itu, pasar dibanjiri konten instan buatan mesin murah, cepat, dan masif menggeser perlahan para penulis dan seniman dari ruang hidupnya sendiri.
Di sisi lain layar, ada manusia-manusia yang nyaris tak terlihat. Pekerja dari negara berkembang direkrut untuk “melatih” AI mengklasifikasikan data, menyaring konten ekstrem, membentuk kecerdasan mesin namun nama mereka tak pernah tercatat. Fenomena ini oleh sebagian pengamat disebut sebagai cognitive colonialism: eksploitasi tenaga kognitif global dengan upah minimum, tanpa pengakuan, tanpa hak jangka panjang, sementara keuntungan mengalir ke perusahaan teknologi di belahan dunia lain.
Ironisnya, sistem AI prediktif yang diklaim objektif justru sering kali gagal memahami kompleksitas manusia. Algoritma digunakan untuk memprediksi kriminalitas, kelayakan kredit, bahkan peluang hidup seseorang padahal data yang dipakai sarat bias historis. Keputusan mesin kemudian memperkuat ketidakadilan yang sudah ada, menciptakan lingkaran diskriminasi yang sulit diputus karena dibungkus label “teknologi cerdas”.
Deepfake pun berevolusi menjadi alat yang jauh lebih berbahaya dari sekadar hiburan. Identitas bisa dipalsukan, reputasi dihancurkan, opini publik dimanipulasi. Video dan suara palsu menyebar otomatis di media sosial, memicu kepanikan, konflik politik, hingga kerusuhan sosial. Semua berlangsung cepat, terkoordinasi, dan nyaris mustahil dilacak kembali ke sumber awalnya.
Di tengah semua itu, satu hal bergerak perlahan namun pasti: otonomi manusia menyusut. Pekerjaan tergantikan, keputusan dialihkan ke mesin, dan nilai moral diprogram ke dalam baris kode yang ditulis oleh segelintir orang. Mesin belajar tentang kebiasaan, ketakutan, dan keinginan manusia dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya sementara manusia sendiri hanya melihat permukaannya.
Apa yang sebenarnya sedang dibangun di balik layar kemajuan ini? Jawabannya mungkin tidak pernah diumumkan secara resmi. Tapi jejaknya ada di mana-mana, menunggu untuk disadari.
